Apa Itu Lyrids dan Kenapa 2026 Jadi Tahun yang Tepat

Setiap bulan April, Bumi melewati ekor debu raksasa yang ditinggalkan komet bernama Thatcher. Ekor ini terdiri dari partikel-partikel kecil — mulai dari seukuran butiran pasir hingga sebesar kacang polong. Ketika partikel itu masuk ke atmosfer Bumi dengan kecepatan 49 km per detik, ia terbakar akibat gesekan udara pada ketinggian sekitar 100 kilometer. Di bumi, kita melihatnya sebagai kilatan cepat di langit — “bintang jatuh”.

Partikel seperti ini ada jutaan jumlahnya di ekor komet itu. Saat Bumi masuk ke bagian paling padat ekornya, kamu bisa menyaksikan puluhan meteor dalam semalam. Hujan meteor tahunan inilah yang disebut Lyrids. Di tahun 2026, bagian terpаdat ekor itu jatuh tepat pada malam 22-23 April — itulah puncaknya, dan itulah alasan kenapa perlu direncanakan dari sekarang.

Meteor Lyrids di atas observatorium di Chili

Meteor Lyrids di atas observatorium di pegunungan wilayah Coquimbo, Chili utara. Kanan bawah adalah cahaya kota Andacollo. Wilayah ini punya salah satu langit paling gelap di planet ini — di sinilah observatorium astronomi terbesar dunia berkumpul. Foto – International Gemini Observatory/NOIRLab/NSF/AURA/P. Horálek (Institute of Physics in Opava)

Ada satu alasan khusus kenapa 2026 menarik: malam itu Bulan hampir tidak bersinar, jadi langit akan benar-benar gelap. Soal ini dibahas lebih lengkap di bawah, tapi dulu — ringkasan singkatnya:

Intinya dalam dua kalimat

Keluar pada malam 22-23 April, waktu terbaik mulai pukul 01.00 dini hari hingga menjelang fajar waktu setempat. Pergi minimal 50-70 kilometer dari kota, berbaring telentang, dan jangan terpaku pada satu titik — pandang langit secara luas. Di tempat yang benar-benar gelap, kamu bisa melihat 15-20 meteor per jam, dan beberapa di antaranya seterang kembang api.

Kapan Harus Keluar: Panduan per Zona Waktu

Setiap hujan meteor punya titik puncak — momen ketika Bumi melewati bagian paling padat dari ekor debu komet. Di tahun 2026, menurut perhitungan International Meteor Organization (IMO), puncak itu jatuh pada 19.00-20.00 UTC tanggal 22 April. Artinya berbeda-beda tergantung di mana kamu berada — di sebagian tempat itu masih siang, di tempat lain sudah tengah malam.

Berikut waktu puncak berdasarkan kota-kota besar. Kalau kamu tinggal di kota lain, sesuaikan dengan zona waktu terdekat dari tabel ini.

London, Lisbon (UTC+1)
20.00, 22 April
Baru gelap, terlalu awal untuk mulai

Berlin, Paris, Madrid (UTC+2)
21.00, 22 April
Masih awal malam, tunggu hingga tengah malam

Athens, Istanbul (UTC+3)
22.00, 22 April
Malam sudah dimulai, bisa keluar

Beijing, Kuala Lumpur (UTC+8)
03.00, 23 April
Waktu terbaik: tengah malam penuh

Tokyo, Seoul (UTC+9)
04.00, 23 April
Menjelang fajar, kondisi ideal

New York (UTC-4)
15.00, 22 April
Masih siang, amati malam sebelumnya

Yang paling penting soal waktu: kamu tidak harus keluar tepat di momen puncak. Lyrids punya periode aktif yang panjang, dan lonjakan meteor terjadi selama beberapa jam di sekitar puncak — artinya sepanjang malam 22-23 April. Bahkan malam 21-22 April hampir sama aktifnya dengan malam utama. Ini menguntungkan: kalau malam puncak berawan atau kamu tidak sempat pergi, malam berikutnya tetap memberikan jumlah meteor yang hampir sama.

Jendela terbaik untuk mengamati dalam kondisi apa pun adalah mulai pukul 01.00 dini hari hingga fajar. Sebelum tengah malam, meteor sulit terlihat karena alasan sederhana: Bumi bergerak di orbitnya, dan saat sore hari kita berada di sisi “belakang” planet relatif terhadap aliran meteor — partikel harus mengejar kita, dan hanya yang paling cepat yang masuk ke atmosfer. Setelah tengah malam, Bumi berbalik “menghadap” aliran itu, dan meteor benar-benar menghantam atmosfer — seperti hujan yang menghantam kaca depan mobil yang sedang melaju. Itulah kenapa pukul 03.00 dini hari ada 2-3 kali lebih banyak meteor dibanding pukul 22.00 malam.

Lyrids di langit gelap

Begini tampilan Lyrids di langit gelap — jejak cahaya panjang sesaat sebelum menghilang.

Ke Mana Harus Menatap: Temukan Vega dan Jangan Salah Arah

Nah, ini masalah yang paling sering dialami pemula — bingung harus menatap ke bagian langit yang mana. Aku jelaskan langkah per langkah.

Setiap hujan meteor punya yang namanya radiant — titik di langit tempat semua meteor secara visual tampak melesat ke segala arah. Bayangkan kembang api: percikan melesat dari satu titik pusat ke semua penjuru — begitu pula cara kerja radiant. Radiant Lyrids berada di dekat bintang Vega, di perbatasan rasi Lyra dan Hercules. Dari sinilah nama hujan meteor ini berasal.

Vega adalah salah satu bintang paling terang di seluruh langit belahan utara — mustahil terlewatkan, bahkan kalau kamu belum pernah belajar astronomi sekalipun. Bintang berwarna biru-putih ini terlihat dari kota mana pun, bahkan di tengah polusi cahaya. Cara menemukannya:

  • Sore hari (21.00-22.00): tatap ke arah timur laut, pada ketinggian sekitar 30-40° di atas cakrawala. Vega adalah bintang paling terang di arah itu.
  • Tengah malam (01.00-03.00): Vega sudah lebih tinggi, hampir di timur.
  • Menjelang fajar (04.00-05.00): Vega hampir tepat di atas kepala, mendekati zenit.
  • Kalau masih ragu: buka aplikasi Stellarium atau SkySafari — arahkan ponsel ke langit, dan aplikasinya akan menunjukkan di mana tepatnya Vega berada saat ini.

Peta langit malam di atas cakrawala timur laut bulan April

Peta langit malam di atas cakrawala timur laut bulan April. Ditampilkan rasi Lyra dengan Vega dan titik radiant Lyrids, dari mana meteor-meteor melesat ke berbagai arah. Pembuat peta – Bruce McClure, Joni Hall

Satu hal penting: jangan menatap langsung ke Vega. Ini kesalahan yang hampir semua pemula lakukan. Ketika meteor melesat tepat ke arahmu — yaitu muncul persis di dekat radiant — kamu hanya melihat kilatan titik singkat, sepersekian detik saja. Tapi ketika meteor melintasi langit dengan sudut terhadapmu, ia meninggalkan jejak panjang yang indah merentang separuh langit.

Strategi yang benar: tatap area langit yang berjarak 40-90° dari Vega. Patokan mudah: julurkan tangan, kepalkan. Satu kepalan pada tangan terentang itu sekitar 10° di langit. Empat kepalan berarti 40°. Pandanglah area langit yang berada empat hingga lima kepalan dari Vega ke arah mana pun. NASA merekomendasikan sudut 45° sebagai yang paling optimal.

Kalau kamu tinggal di Eropa Utara — Helsinki, Stockholm, Edinburgh, atau Reykjavik — ada keuntungan tersendiri. Di lintang di atas 51°, Vega tidak pernah terbenam di bawah cakrawala bahkan di siang hari. Artinya ia terlihat sepanjang malam, dan kamu bisa mengamati meteor dari sore hingga pagi tanpa jeda.

Kenapa 2026 Beruntung: Soal Bulan

Musuh utama pengamatan hujan meteor adalah Bulan yang terang. Saat Bulan purnama atau mendekati purnama, langit menjadi seterang di bawah lampu jalanan kota. Meteor-meteor redup tenggelam begitu saja — mata manusia tidak mampu melihatnya. Yang tersisa hanya bolide paling terang, artinya 5-10 kali lebih sedikit meteor dibanding langit gelap total.

Di tahun 2026, kita beruntung seperti jarang terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Lihat saja:

  • Bulan baru jatuh 17 April 2026. Artinya 5 hari sebelum puncak, Bulan sudah menghilang sepenuhnya dari langit.
  • Pada malam puncak, Bulan hanya berupa sabit tipis yang baru tumbuh, dengan iluminasi hanya 27-28% dari purnama.
  • Sabit itu terbenam antara pukul 00.15 hingga 02.00 waktu setempat. Artinya tepat saat jendela terbaik pengamatan dimulai, Bulan sudah tenggelam.
  • Kuartal pertama Bulan baru jatuh 24 April, setelah puncak berlalu.

Artinya dalam praktik: dari tengah malam hingga fajar — yaitu waktu paling produktif untuk mengamati — langit benar-benar bebas dari Bulan. Kamu tidak hanya akan melihat bolide besar yang terang, tapi juga meteor-meteor redup yang di tahun biasa akan larut dalam cahaya Bulan. IMO secara resmi mencatat Lyrids 2026 sebagai hujan meteor dengan “gangguan Bulan nol” — predikat yang tidak diberikan setiap tahun. Konfigurasi seberuntung ini baru akan terulang sekitar tahun 2030.

Aku biasanya tidak mengejar acara astronomi secara khusus — di dunia astrotourism terlalu banyak hype dengan konten yang tipis. Tapi ketika tiga kondisi langka sekaligus bertemu — puncak yang lebar, langit gelap, dan aktivitas di bulan April saat bukan lagi musim dingin dan harga tiket masih wajar — itu layak dijadikan alasan untuk pergi. Kebetulan seperti ini terjadi sekali dalam 5-6 tahun, dan di 2026 semua itu ada.

Di Mana Mengamati: Cara Menemukan Lokasi yang Tepat

Hujan meteor Lyrids

Hujan meteor Lyrids. Foto – PsamatheM

Prinsipnya sederhana — makin jauh dari lampu kota, makin banyak meteor yang bisa kamu lihat. Perbedaannya sangat besar. Menurut data American Meteor Society (AMS), angkanya begini:

  • Di pusat kota London, Paris, Berlin, atau Madrid — paling banyak 2-4 meteor per jam. Polusi cahaya kota “menelan” sisanya.
  • Di pinggiran kota, 20-30 km dari pusat — sudah 6-8 meteor per jam. Jauh lebih baik, tapi langit masih memangkas setengahnya.
  • Di pedesaan, 80-100 km dari kota besar — 10-15 meteor per jam. Ini sudah pengamatan yang layak.
  • Di tempat gelap sungguhan, yang dilindungi khusus dari polusi cahaya — 18-22 meteor per jam. Ini maksimum yang bisa dicapai di tahun 2026.

Tempat-tempat yang dilindungi khusus ini disebut “dark sky parks”. Di sana pemerintah setempat melarang penerangan terang agar langit malam alami terjaga untuk kepentingan astronomi. Tabel di bawah memuat lokasi terbaik di Belahan Bumi Utara. Kolom “Skala Bortle” menunjukkan seberapa gelap langitnya (1 = ideal seperti di tengah samudra; 9 = pusat kota besar).

Lokasi Negara Bortle Cara Menuju
Northumberland Inggris 2 Dark sky park terbesar di Eropa, 3 jam berkendara dari Newcastle
Galloway Forest Skotlandia 2-3 Dark sky park resmi pertama di Eropa
Eifel Jerman 3 2 jam berkendara dari Frankfurt atau Cologne
Pic du Midi Prancis 2 Observatorium di Pegunungan Pyrenees, ketinggian 2.877 m
Zselic Hungaria 3 180 km dari Budapest
Gurun Negev Israel 2 Kawasan Mitzpe Ramon, 2,5 jam dari Tel Aviv
Sinai, Santa Katarina Mesir 2 Ketinggian 1.600 m, 3 jam dari Sharm el-Sheikh
Mont-Mégantic Kanada 2 Dark sky reserve pertama di dunia, Quebec
Ladakh, Leh India 2 3.500 m, malam April bisa mencapai -10°C
Gurun Gobi Mongolia 1 Langit paling gelap di Asia, tapi aksesnya tidak mudah

Kalau kamu tidak bisa atau tidak mau pergi ke dark sky park khusus — tidak masalah, perjalanan biasa ke pedesaan pun sudah cukup. Patokan sederhananya: pergi 80-100 kilometer dari kota besar mana pun ke arah daerah yang jarang penduduknya, dan langitmu sudah masuk kategori Bortle 4 — itu cukup untuk menikmati Lyrids secara layak. Patokan lainnya: dalam radius 30 kilometer dari titikmu, tidak boleh ada kota dengan penduduk lebih dari 20.000 orang. Contoh kawasan seperti ini di berbagai negara:

  • Eropa Tengah: Palatinate di Jerman, Masuria di Polandia, Moravia Selatan di Ceko, Burgenland di Austria.
  • Inggris: Yorkshire Dales, Exmoor, Lake District.
  • Spanyol: Extremadura, Teruel, La Mancha.
  • Italia: pedalaman Puglia, Basilicata, Abruzzo.
Jan

Langit terbaik yang pernah aku lihat di 61 negara adalah Gurun Gobi. Aku menginap di yurt dekat Dalanzadgad, keluar ke toilet pukul 03.00 dini hari, dan selama tiga menit tidak bisa memahami apa yang bergemuruh di atas kepala. Itu adalah Bima Sakti — strukturnya terlihat sejelas awan di siang hari. Kalau kamu pergi ke Mongolia akhir April, bersiaplah: malam hari bisa -10°C, di pegunungan Gobi Altai bisa mencapai -20°C, kamu butuh sleeping bag yang serius. Dan pastikan yurt yang kamu pesan ada kompornya — yurt wisata tanpa kompor tidak cocok untuk April.
@dusty_baobab
· Mantan geolog dari Krakow, sudah keliling 61 negara dengan motor

Cara Mengamati yang Benar: Panduan Praktis

Meteoroid memasuki atmosfer

Meteoroid memasuki atmosfer. Foto – Jacek Halicki

Soal proses pengamatannya sendiri — “pergi jauh dari kota dan matikan senter” itu benar, tapi baru separuh cerita. Ada beberapa trik lagi yang membuat perbedaan besar bagi pemula — dengan trik ini kamu bisa melihat 2-3 kali lebih banyak meteor dibanding tanpa mereka.

1. Beri Mata 20-30 Menit untuk Beradaptasi dengan Gelap

Aturan terpenting: jangan lihat layar terang dalam 30 menit pertama setelah tiba di lokasi. Mata manusia dalam kegelapan beralih ke mode “penglihatan malam” khusus, tapi butuh waktu. Saat baru turun dari mobil yang terang, matamu masih “mata kota” — hanya bintang-bintang paling terang yang terlihat. Perlahan, dalam 20-30 menit, penglihatan beradaptasi dan kamu mulai melihat sepuluh kali lebih banyak detail di langit.

Satu kali melirik layar putih ponsel langsung mereset adaptasi itu — dan menunggu lagi dari awal. Jadi:

  • Kalau perlu cek waktu, aktifkan mode layar merah di ponselmu. Di iPhone: Pengaturan → Aksesibilitas → Tampilan & Ukuran Teks → Filter Warna → Tint Merah. Di Android, gunakan “Filter Merah” lewat aplikasi seperti Twilight.
  • Kalau pakai senter, wajib pakai senter merah. Senter putih adalah musuh. Senter kepala dengan mode merah bisa dibeli di toko perlengkapan outdoor mana pun.
  • Aplikasi astronomi Stellarium dan SkySafari punya mode merah bawaan — aktifkan sebelum keluar ke bawah langit.

2. Wajib Berbaring Telentang

Berdiri atau duduk, kamu tidak akan tahan lebih dari 15 menit — leher pegal, dan pada akhirnya kamu hanya menatap seperempat langit. Untuk melihat banyak meteor, kamu butuh pandangan yang luas.

Satu-satunya cara yang nyaman: berbaring telentang dan menatap ke atas. Bawa matras lipat, alas tidur camping, kursi malas lipat, atau bahkan kasur tiup sekalipun. Dalam posisi berbaring, kamu bisa menjangkau 150° langit sekaligus dan bertahan mengamati satu jam penuh tanpa ketegangan apa pun.

3. Tatap Area Luas, Bukan Satu Titik

Meteor muncul tiba-tiba dan di mana saja di langit — tidak bisa diprediksi. Kalau kamu terpaku pada satu titik, kamu akan melewatkan sebagian besar. Teknik yang benar: gunakan pandangan “defokus” pada area langit yang luas, sekitar 45° dari Vega. Bayangkan kamu menatap “secara umum” ke area yang besar, bukan ke bintang tertentu.

4. Berapa Lama Harus Mengamati

Minimal satu jam. Meteor tidak datang secara merata — kadang 20 menit tidak ada apa-apa, lalu tiga meteor muncul dalam satu menit berturut-turut. Kalau kamu keluar 10 menit dan tidak melihat apa-apa, itu bukan berarti gagal — kamu hanya kena jeda.

Dalam praktiknya, sesi optimal adalah 2-3 jam, dari pukul 01.00 hingga 04.00, dengan satu jeda untuk minum termos di tengah-tengah. Dalam tiga jam itu kamu akan melihat lebih dari separuh total yang ditawarkan semalam penuh.

Yang Wajib Dibawa

Pakaian hangat — minimal 8-10°C lebih tebal dari yang biasa kamu pakai di suhu yang sama. Berbaring tanpa bergerak membuat tubuh cepat kedinginan; meski sore hari terasa +15°C, pukul 03.00 dini hari kamu pasti menggigil. Matras atau kursi lipat. Termos berisi teh atau kopi — sangat memperpanjang daya tahan. Senter merah. Camilan — kacang, cokelat. Power bank — di suhu dingin baterai ponsel bisa habis dalam sejam. Yang tidak perlu dibawa: teleskop dan teropong. Untuk meteor, optik justru merugikan — meteor melintas lebih cepat dari waktu yang kamu butuhkan untuk mengarahkan teropong.

Asal-Usul Lyrids: Komet yang Akan Kembali Tahun 2283

Sekarang sedikit sejarah astronomi di balik hujan meteor ini — banyak orang merasa ini bagian yang paling menarik.

Semua partikel Lyrids berasal dari satu komet tertentu. Namanya C/1861 G1, atau Komet Thatcher. Komet ini ditemukan pada 5 April 1861 oleh orang Amerika bernama A. E. Thatcher — seorang astronom amatir yang mengamati dari New York menggunakan teleskop kecil (refraktor 11 cm, yang setara dengan yang kini bisa dibeli seharga beberapa ratus dolar). Menurut data NASA JPL, komet ini menyelesaikan satu putaran penuh mengelilingi Matahari dalam 416 tahun.

Bayangkan skalanya: terakhir kali Komet Thatcher mendekati Bumi adalah pada 1861 — saat Perang Saudara Amerika berkecamuk dan Eropa masih mengandalkan telegraf berkabel. Kemunculan berikutnya diperkirakan sekitar tahun 2283. Artinya komet itu secara langsung hanya akan dilihat oleh orang-orang yang saat ini belum lahir — bukan anak kita, tapi cicit dari cicit kita.

Sementara itu, ekor debu yang ditinggalkannya di luar angkasa selama lintasan-lintasan sebelumnya tetap ada selama ribuan tahun. Setiap kali komet melintas dekat Matahari, partikel es dan debu kecil terlepas dari permukaannya yang diuapkan oleh sinar Matahari — partikel-partikel itu menyebar sepanjang orbitnya. Pada 1867, astronom Austria Edmond Weiss menghitung bahwa orbit Komet Thatcher melintas hanya 300.000 kilometer dari orbit Bumi — dalam skala kosmik, itu benar-benar mepet. Dan setiap bulan April, planet kita memotong jalur debu itu.

Keistimewaan lain Lyrids: dalam aliran ini terdapat partikel yang luar biasa besar, bahkan hingga ukuran satu meter. Biasanya meteor hanyalah serpihan seukuran butiran pasir, tapi penelitian Martin Beech (Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, 1999) menunjukkan bahwa sebagian meteoroid dalam aliran Lyrids jauh lebih besar dari biasanya. Artinya di masa lalu inti komet sebagian hancur, dan kini di ekornya berterbangan pecahan besar bersama debu halus. Inilah mengapa Lyrids terkenal dengan bolide terang — kilatan lebih terang dari Venus yang meninggalkan jejak asap bercahaya selama beberapa detik. Menyaksikan bolide seperti ini adalah salah satu momen paling berkesan dalam mengamati hujan meteor.

Niko

Dari kokpit Boeing 777 saat cruising di ketinggian 11-12 kilometer, hujan meteor terlihat berbeda dibanding dari darat. Tidak ada distorsi atmosfer, tidak ada cahaya kota dari bawah, dan yang utama — kamu terbang DI ATAS lapisan awan yang biasanya menutupi bintang. Penerbangan transatlantik di malam April adalah salah satu cara terbaik melihat Lyrids, kalau arah penerbangannya kebetulan cocok. Tahun lalu di penerbangan Frankfurt-New York, aku menghitung enam bolide dalam dua jam di atas Atlantik, dua di antaranya meninggalkan jejak panjang merentang separuh langit.
@nikavu37
· Pilot Boeing 777, menjelajahi kota-kota saat stopover

Pemandangan langit dari kokpit pesawat

Mengamati objek langit dari dalam pesawat

Hujan Bintang Tertua dalam Sejarah: Catatan 2.700 Tahun Lalu

Satu fakta lagi tentang Lyrids yang jarang ditemukan di tempat lain. Ini adalah hujan meteor paling tua yang pernah tercatat dalam sejarah manusia. NASA secara resmi memperkirakan pengamatan paling awal terjadi 2.700 tahun yang lalu.

Sumber tanggal ini adalah kronik kuno Tiongkok “Zuo Zhuan” (左傳), komentar terhadap annals “Musim Semi dan Musim Gugur”. Catatannya dibuat pada 23 Maret 687 SM, tahun ketujuh pemerintahan Pangeran Zhuang di negeri Lu. Terjemahan dari buku Peter Jenniskens “Meteor Showers and their Parent Comets” (Cambridge, 2015): “pada malam hari, di bulan keempat musim panas, bintang-bintang tetap menjadi tak terlihat; pada tengah malam bintang-bintang jatuh seperti hujan“.

Artinya meteor-meteor yang akan kamu saksikan malam 22-23 April 2026 adalah aliran yang sama dengan yang diamati para pengamat Tiongkok 2.700 tahun lalu. Bumi sudah ratusan kali memotong ekor debu Komet Thatcher dalam rentang waktu itu, dan setiap bulan April orang-orang di Bumi menyaksikan fenomena yang sama — hanya kini kita tahu dari mana asalnya.

Ada pula catatan kuno lainnya: kronik Tiongkok tentang penampakan terang pada 15 SM, kemungkinan Lyrids Eropa pada tahun 1095, 1096, dan 1122, serta catatan Korea tahun 1136 — “banyak bintang terbang dari arah timur laut”. Dalam tradisi masyarakat adat Boorong dari Australia, Lyrids dikaitkan dengan cakaran megapode besar — burung yang diasosiasikan dengan Vega, yang masa bertelurnya bertepatan dengan bulan April.

Ketika Lyrids Pernah “Meledak” di Masa Lalu

Biasanya Lyrids menghasilkan 15-20 meteor per jam di langit gelap. Tapi setiap beberapa dekade, terjadi lonjakan mendadak di mana aktivitasnya melesat 10-30 kali lebih kuat dari biasanya. Kasus-kasus yang tercatat:

  • 1803, Virginia (AS) — lonjakan terkuat dalam seluruh sejarah pengamatan. Sekitar 700 meteor per jam. Warga Richmond terbangun oleh bunyi lonceng pemadam kebakaran, dan saat keluar, mereka melihat meteor “jatuh dari segala penjuru langit, seperti kembang api”.
  • 1922, Yunani — astronom Henry Norris Russell mencatat 96 meteor per jam.
  • 1945, Jepang — Kojiro Komaki dari Japan Meteor Society menghitung 112 meteor dalam 67 menit.
  • 1982, Florida dan Colorado — sekitar 90 meteor per jam.

Penyebab lonjakan ini adalah Jupiter. Gravitasinya secara berkala mendorong “aliran” tertentu dari ekor debu tepat ke orbit Bumi, sehingga kita melewati bagian yang lebih padat. Menurut perhitungan para ilmuwan (model Maslov, Sato, dan Lyytinen), lonjakan kuat berikutnya diperkirakan sekitar tahun 2042. Jadi tahun 2026 akan “biasa” dari segi jumlah meteor — tapi langka dalam hal kondisi pengamatan berkat absennya Bulan.

Apa Lagi yang Menarik di Langit Musim Semi Ini

Meteor Lyrids di atas Danau Nian, Provinsi Yunnan, Tiongkok

Meteor Lyrids di atas Danau Nian, Provinsi Yunnan (Tiongkok). Ekor meteor memanjang ke belakang menuju radiant di rasi Lyra — yang berada di luar bingkai atas. Kiri adalah jalur Bima Sakti, kanan adalah awan. Foto – Jianfeng Dai

Kalau Lyrids membuatmu ketagihan dan ingin terus mengamati — April dan Mei 2026 masih menawarkan beberapa kesempatan lagi menyaksikan hujan meteor. Tapi sebagian besar lebih lemah dari Lyrids, atau hanya terlihat dari Belahan Bumi Selatan. Berikut gambaran lengkapnya:

Hujan Meteor Periode Aktif Puncak 2026 Meteor per Jam Terlihat dari
Lyrids 14-30 April 22-23 April 18-23 Belahan Bumi Utara
Pi Puppids 15-28 April 23 April kurang dari 1 Belahan Bumi Selatan saja
Eta Aquariids 19 April – 28 Mei 5-6 Mei 50-60 Lebih baik dari Belahan Bumi Selatan
Alpha Virginids Maret – Mei tidak jelas kurang dari 2 Kedua belahan bumi

Yang paling menarik dari daftar ini adalah Eta Aquariids, dengan puncak 5-6 Mei. Hujan meteor ini dihasilkan oleh Komet Halley yang terkenal — yang muncul setiap 76 tahun sekali. Dalam artian tertentu ia “saudara” Lyrids karena sama-sama berasal dari sebuah komet. Meteor Eta Aquariids bahkan lebih cepat — 65 km/detik, berwarna putih kebiruan. Tapi ada catatan pentingnya: hujan meteor ini lebih menyukai Belahan Bumi Selatan. Dari Eropa dan lintang utara lainnya, radiant-nya hampir tidak naik di atas cakrawala sebelum fajar, dan paling banyak hanya terlihat 5-8 meteor per jam. Tapi kalau kamu kebetulan berada di Bali, Dubai, Cape Town, Rio de Janeiro, atau Sydney di awal Mei — Eta Aquariids akan memberikan dua kali lebih banyak meteor dibanding Lyrids di titik yang sama.

Pi Puppids berpotensi menjadi hujan meteor selatan yang indah, tapi di tahun 2026 aktivitasnya hampir nol — jadi bisa diabaikan saja.

Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Tidak perlu, optik justru merugikan untuk mengamati meteor. Teropong menyempitkan bidang pandang menjadi lingkaran sempit 5-7°, sementara meteor melintasi 20-30° dalam satu detik — saat kamu memutar roda fokus, semuanya sudah selesai. Amati dengan mata telanjang — begitu kamu bisa menjangkau area langit yang luas sekaligus dan melihat jauh lebih banyak.

Di ponsel flagship terbaru (iPhone 15 Pro ke atas, Pixel 8 Pro, Galaxy S24 Ultra) — bisa, lewat mode malam dengan eksposur 10-30 detik. Wajib pakai tripod — memegang ponsel pakai tangan tidak akan berhasil, hasilnya pasti blur. Kamera bisa menangkap bolide terang, tapi meteor-meteor redup biasa tidak akan tertangkap — untuk itu butuh kamera foto sungguhan. Untuk memotret meteor secara serius, kamu perlu kamera mirrorless atau DSLR full-frame dengan lensa wide angle (14-24 mm, f/2.8), eksposur 15-20 detik, ISO 3200.

Prakiraan cuaca biasa kurang cocok — kamu butuh prakiraan tutupan awan khusus. Tiga layanan terbaik: Ventusky (lapisan “Tutupan Awan”), Windy (prakiraan detail per ketinggian awan), Clear Outside (dirancang khusus untuk astronom, menampilkan transparansi atmosfer). 48 jam sebelum tanggal pengamatan, bandingkan beberapa titik dalam radius 200 km dari lokasimu dan pilih tempat dengan tutupan awan paling minimal.

Tidak begitu terlihat. Radiant Lyrids berada di bagian utara langit, dan dari Sydney, Buenos Aires, atau Cape Town, ia hanya sedikit naik di atas cakrawala utara menjelang fajar. Paling banyak bisa diharapkan 2-3 meteor per jam. Di selatan lintang 51° selatan (Punta Arenas di Chili, Antarktika), Vega sama sekali tidak pernah muncul di atas cakrawala — Lyrids tidak bisa diamati dari sana sama sekali. Kalau kamu di Belahan Bumi Selatan, leb